Memastikan

Sungguh tidak terpikir lagi 

Mengapa harus menuju ke sana

Juga tidak pada duduk perkara 

Mendekat istana tunga dan sejenisnya 

Tak lagi jumlah dan bentuk 

Berkidik ini tengkuk ingin berlari



Pintasan akankah tampak 

Menjauh agar disana kelak 

Kecukupan  ruang bebas memandang

Keraguan  membaringkan badan

Saat kembali  tanpa memutar otak 

Berapa kali helaan nafas 

Dia memiringkan badan 

Usai terbangun

Memandang cermin 

Yang ikut tersenyum ....

Tak ada kepastian  akan jawaban cinta 

Kian Melayang


Antara tidak percaya bila dinamai keadaan itu seperti taut matamu tiba di sini ingin menghentikan gulirnya pandang namun telah terlanjur berlari ke arah ujung makna dijumpa sebuah tanda yang berarti menghenti pesan diujung fajar hingga baru tersadar oleh berubahnya hari yang hingar bingar.....

Aslinya jelajah membawa bukti yang sepadan selayak bentangan rimbun pepohonan penghuni lembah yang telah engkau lalui hingga jejakan demi jejakan menaiki curamnya tebing-tebing itu penyimpan bola-bola cerita kehidupan tentang ketegarannya lengkap dengan ketak berdayaannya kini kecuali hanya untuk apa kecuali memberi dengan merapuhkan dirinya mengecup dengan hangatnya bagian dari bulatan tempatnya berasal yang telah menghidupi dirinya dimasa lampau.....



Mengapa bayangan wajah itu tak pula menghilang dari kenangan dan tetap menjadi bayang-bayang yang sering terulang menjadi pertanyaan hingga gunjingan memanaskan bola liar dari mulut-mulut dari yang berbibir tipis hingga yang tebal hingga kini telah terbiarkan dilukis dalam kanvvas bekas berkain kumal yang berbahan kasar bak karung-karung tua...

Engkau yang telah melihat jauh aku di seberang pandang hingga tak jua nampak boleh kaupikir semau dan sesuka kau dapat tanpa pinta dan panggil dengan teriakan lebar kata dari mulut atau pengeras ganda sebagai penguat yang semuanya sama sekali tidak mengubah dan memberikan pengaruh pada awal yang telah dirunut untuk ditetapkan oleh yang memiliki segala tempat untuk berpadunya asmara berlabuh di tepian terindah baginya....



Menanggalkan sehelai demi sehelai penutup kulit-kulitmu mungkin dapat kaulakukan dengan leluasa di sini, di tempat liar hingga engkau menceburkan sekujur tubuh hingga pulih menjadi segar bila sesaat saja; namun hembusan demi hembusan dari sela-sela ranting dan dedaunan janganlah membekukanmu bila tak mengenal tentang dirimu yang bagi mereka engkau adalah pendatang dikeliaran tarianya yang paling eksotik membius setiap kepongahan hingga menerbangkannya menjadi awan-awan dalam kedasyatan pusaran caranya tanpa nalar dan hitungan.....

Daki tak menjadi bagian penting di sini untuk kauperhatikan di sini saat engkau sedang bergumul dengan lumpur sepanjang langkah yang terkadang lupa ditengah kekagumanmu akan murmi dan liarnya sudut semesta ini yang dipenuhi dengan pesona..................

Harapanmu menghangatkan diri ini bagimu hanya menjadi impian kosong hingga kemustahilan bisa nyata mengalir dari caramu memandang tatkala dibawah tenda itu engkau menyadari mantel dan selimut kebanggaan dan penuh kenangan itu telah tertinggal oleh ketergesaanmu membuat langkah yang terlalu cepat atau mungkin tidak ingin disebut tak cakap melombat secepat cara kekiniaan yang dibanggakan banyak kalangan dan semacam praduga serta semacamnya yang sering menimbun tebal dalam pikiran-pikiran semunya ... 

sempit pemandangan.... 

hanya karena malam itu terlalu pekat

kecuali memberi waktu kita untuk berdekat

juga terus saling memberikan rasa hangat............



Taburi Cinta



Sedikit demi sedikit arti

Dari setiap sapaan yang kau berikan

Aku belajar untuk mengenali

Setiap ruang demi ruang yang istimewa

Selaksa memasuki relung demi relung 

bagian persinggahan terdalam dari hatimu

yang menautkan harapan 

agar tetap diharumi indahnya penantian

walau tak ada setangkup melati lagi

yang pantas langsung tuk melengkapinya

penantian panjangmu itu.......



Hanya karena keterpautan alami

Yang selalu ada dan jadi milik kita

biarlah ia yang terjulur jadi pengharum

hanya untukmu sbagai pencinta indahnya ruang

juga harumnya persinggahan ....


yang tiada lagi tak akan menggantikan

seperti yang dulu tampak rimbun subur kemuning

juga semerbak harum bunganya kubawa serta bagimu

mengisi setiap ruang hingga mewangi....

sekali lagi setangkup cempaka ini biarlah...

mewakili yang kini tidak mekar memberika harumnya lagi

masih lama menunggu musimnya kembali....




Ulat Dahan?


 Jika kecepatan 

Yang dijadikan pilihan 

Sudah awal yang salah 

Engkau menunjukkan jari 

Kepada diri ini

Telunjukmu mengarah 

Pada yang lemah 

Buat membuat jauhnya langkah 

Berbalik jika maumu hanya 

Mengitari lembaran daun kecil 

Namun tidak demikian 

Cara matamu memberi pandangan.

..


songkok ❤...


hutan bakau membisu .... seribu bahasa
tanpa berucap ...mendengar tangisku
saat terbayang stambul kesayangan
kau kenakan ketika menghampiri
panjangnya penantian akan kedatanganmu
rantau yang hanya membagi sepinya siksa 
menunggumu  tanpa kejelasan batas
anganku... engkau seperti mentari di sana
yang katakan remangnya saat akan terbenam
lembut sinarnya seperti memeluk dan mengusap
air mata yang sekian lama menantimu.....
untuk bisa bersama memberikan sebuah arti
yang pantas kita sebut dan namai
sebagai sebuah kata bahagia,... mungkinkah??????



Ketika Kamu Tidak Percaya



Ketika kamu tidak percaya
kamu tidak percaya
Ketika kamu percaya
kamu percaya
Setahuku begitu adanya
tanpa ukuran kedalamannya
Berubah tidaknya engkau
samasekali bukan urusanku
Karena aku tidak sepertimu
yang dilahirkan dan selalu saja
Punya kebutuhan dan sering
tidak tahu cara mengatakannya
Sering hal kecil saja seperti senyuman
selalu saja kau tunggu sebuah jawaban
Karena aku tidak sepertimu
dan tidak akan pula senyumanmu
menjadi bagianku untuk menjawab
Karena aku tidak sepertimu
terlalu banyak yang menebar senyum
siang dan malam di sini tanpa diminta.

In Playland





Ditengah hiruk pikuk
Nama keadaan untuk metropolitan
sebegitu engkau
engkau mencari cara
untuk ada 
datang menelusuri
wajah-wajah berlumur kegelisahan
tanpa tetabuhan
penyemangat sebagai mana
pesan apatah kau jinjing
tanpa harus bergunjing
memantik gumpal perih
tanpa sapa
sedikit beban biarlah
mengubah jadi senyuman kecil
menangkap arti diri yang pernah merasa
tanpa harus lagi kini mengiba
lalunya perjalanan
biarlah bagian dari lorong-lorong kenangan
karena di sana
terpatri berjuta keindahan pesan
.......


Canggung



menepi dengan perlahan keberenang diwaktu siang menuju sore yang sejuk tampak ia berada disana ditepian lain saat kuseberangi keruhnya air itu tak menghalangi jalan yang biasa ditempuh saat pulang ia tampak memancing mencari lauk pengganjal menu beberapa ekor penyedap meja kuduga saja sebagaimana biasa sedikit canggung kumengusik tempatnya menajur harus kulalui kuhanya bisa menunduk memberi hormat padanya yang lebih dulu berada disana tampak senyumnya ramah mempersilahkan

Belanga



Diujung jauh batas negeri impian 

Terlukis dalam pisah jarak bentangnya 

Kelopak mata tua yang terbuka 

Menyaksikan tanpa takut angkara 

Yang diusir oleh pembela sejati negeri 

Letak jauh dibidik dengan kedipan cepat 

Mengeja belanga yang diletak beningnya 

pujaan tunduk mengangkat sisa 

Masa lalu agar jauh 

Dan tak lagi mencemar dengan bingar 

Dan membiarkan setiap juluran akar 

Yang menebal menjagi kamar terempuk 

Bagi riak -riak air saat ikan bersenda gurau........


mengalihkan




Batang -batang tinggi 
Yang pernah tumbuh di sini 
Sudah tidak ada lagi 
Lepas mata mandang luas 
Langit membentang 
Namun tidak dengannya 
Yang mungkin mengantuk 
Ia hanya tertunduk diam 
Ia bilang tak menghindari 
Atau menolak semua itu 
Tidak hanya ia bicara 
Tentang bintang -bintang 
Yang indah berada di sana 
Tetapi yang ada diantaranya
Gas dan gugusan debu tebal 
Tanpa ia bicara berapa jauh letaknya 
Apalagi pengaruhnya keypads
Bintang -bintang dan planet 
Tempat dimana kita tinggal ini....

Mengisi Waktu Aja




satu atau
dua tontonan 
moga kasih tuntunan 
kemana suasana yang ada 
mengatur langkah dan 
pilihan terbaik jadi... yang ada didepan langkah  ...

 

Kuncup




Embun menyapa paginya 

Agar berseri keadaan baru 

Rasa yang dingin menjadi cerita musim 

Yang tidak bisa ditawar datang selalu 

Memutar bergantian 

Sebelum ia tumbuh di sana 

Sentuhan dinginnya 

Tetap tidak memekarkannya 

Kelak hanya pada saatnya 

Keluar keindahan warna aslinya 

Untuk semua yang mengarahkan

Pandangan kepadanya punya cerita.


Wewegombel Apaan?




Ia mengernyitkan kening 

Menampakkan ketidakpercayaan 

Namun tak lagi mengulang pertanyaannya.

Asalnya dari kalangan berlogika 

Dipenuhi banyak teori menguji 

Aneka temuan mutakhir terkini 

Dikelilingi para pemikir terkemuka 

Tak heran jawaban itu 

Masih membuatnya tercengang 

Kota asalnya tak ada kisah serupa 

Rekam dari lensanya tak pula kentara 

Asap dari perapian penghangat tenda 

Menyamarkan tangkapan 

Hanya sedikit dedaunan di dalamnya....


Sekonyong Ia




Ambang kebimbangan

Mengalunkan tanya mendekat

Bila yang tak dikenali 

Apalagi menduga kedatangannya

Memanjakan sandarnya 

Dalam lebat belantara 

Sedingin batangan es 

Senjatanya memberi kenampakan 

Wajah laksana disembunyikannya 

Sebelum sesaat kemudian 

Usapan demi usapan itu 

Menggambar jelas dirinya 

Juga bagaimana kedatangan 

Dipilihnya tunggangan handal mumpuni 

Dalam ukuran jelajah tanpa terhisap 

Oleh lelahnya jauh jarak 






Pemangsa



Liar kaki bercakar tajam itu tidak lagi 

Menunjukkan minat berkelakar 

Gelagatnya yang meninggalkan kawanan 

Mudah diduga kemana is menuju 

Tempatnya bisa mengusir 

Rasa hausnya yang paling ia rasakan 

Ia tau jalan kemana akan dapatkan 

Juga mengukur kekuatan tempuhnya

Hingga tegukan demi tegukan 

Dirasakan dapat membuatnya 

Pulih dan lega kembali 

Ia datang bukan sebagai pemangsa 

Atau bagian penghuni

Yang menggarangkan ketakutan 

Jelas apa yang dicarinya 

Bagi penghuni yang lama 

Menginjakkan kaki di sana 

Tinggi, besar dan yang kecil 

Telah memandang caranya 

mengesampingkan munculnya 

Sedikit perbedaan dilihat

semudah sebut sebagai tabiat 

Mudahnya simpul -simpul bisa menyesat 

.....


Jika Good Baru Komentar, Cukupkah?

Sudah sangat biasa dibilang nggak nyambung
Baik tentang lagu yang kusenandungkan bersama mereka
Juga tentang beberapa komentarku pada diskusi
Baik itu yang lingkup kecil maupun yang luas
Bahkan kalau bisa mungkin akan dimanapun dibikinya
sama.....
Bukan itu yang jadi urusan titik hujan ini meliuk dari gugus awan
Yang tadi menebal lalu kini telah menipis.....

Tetapi mengerti tentang siapa mereka
Juga kadar mengerti dalamnya persoalan
Hingga ke inti tujuan yang menjadi poros dari
keteraturan harmoni bersama yang sedang digarap
Keteraturan yang tak sebatas seperti rapinya barisan
Kandungan kebebasan yang disekat dengan hitam tanyanya
Betulkan tanpa pernah ada arti berbekas timbal baliknya manfaat

Sanggah dan segala maunya hingga harapan apa
Jika tak lain dan tak bukan agar dapat ia manggut-manggut
Usai banyak wajah yang telah menganggapnya sebagai yang good
Oh...
Sudah hampir dapat dipastikan jika sebaliknya pastilah cemberut

Tangan-tangan itulah
Yang telah diyakini selalu terjulur
Suara merekalah yang sudah dipastikan
Melengkapi setiap jawaban yang sangat dinanti
Singgah sana yang tidak mengacungkan paksa atau menyimpan dendam
Menawarkan ruang-ruang besar yang megah hingga lorong-lorongnya
Dihuni wajah-wajah melompong mengiba akan sesuatu tanpa mereka pun tahu
Bahkan ia yang sangat tahu pun ada ditengah-tengahnya pun tak pernah diketahui
Dan tak bagaimana mungkin akan tahu karena mereka sama semua melompongnya
Dan tak akan mungkin percaya kepada yang sama-sama melompong

Ia masih meyakini
Jangan memaksa lagi
Ajakan itu pasti hanya dibilang basi
Tak jarang diomeli atau disuruh pergi
Itu hanya cuma mau promosi
Apalagi yang jelas biar nggak rugi
Tapi dapat untung yang lebih tinggi...
Udahlah buat apa ngomong prestasi di sini
Orang sama-sama kita masih juga melompong

Tambah orang tambah suara
Ganti ruang semakin beragam komentar
keriuhan masih sambung menyambung terus
Seperti langkah sosialita yang semakin bergensi
Dimata mereka yang katanya kini para penggemar
Ia ingin merendah di depan kameramen untuk mengatakan
Bukan kode alam apalagi ilmu pengetahun gaib dong mas
Ini karena buah dari panjangnya usaha dan kerja kereas....
Aduh... apa ya... susah juga ngomonginya.. biar jelas
Sambil sebentar-sebentar memperbaika posisi tas
Biar semakin kelihatan yang dibawanya memang sangat berkelas
Oh ia mas.. \jangan nanya-nanya merk yah?..
Soalnya pasti kalian susah ngomongnya, soalnya keliatan banget asalnya...
Lidah kalian kayaknya susah ngomongin kalau nggak latihan dari kecil...
Maaf loh mas bukanmerendahkan kalian....
Tapi emang udah keliatan





Kado ultah dari teman




Kado ultah dari teman: Tgl 8 yang lalu adalah ultahku yang ke 35, seorang teman  memberiku hadiah ini : Matur nuw...

halang rintang

belahan belahan dijadikan 

menarik untuk digunakan 

sebagai sebuah sekatan 

agar disana ada penghalang


Begitu jadi rumusan 

Kuat dan kegunaan 

Muda jadi pilihan 

Menu dan teman 

Untuk melengkap santap


Regang


Tarik lingkar itu dari bentuk asal

Ulur hingga rentang batas aman

Geser hingga ada sudut pandang

Putar secara horizontal membeda sudut

Pindah bagian vertikal dekatkan jarak

Bungkuk atau kelok  mengubah bentuk

Dongak usai beban diringankan

Lompat  lenting bagai mengulang

Tengok umur pasti bicara

Hentak membedakan setiap gerak 

Miring mewaspadai keseimbangan

Engkau yang baik berbulu halus

Ia mampu mengukur beban untukmu .....

Juga sayur berkuah yang kamu suka ....



Arak Arakan

Lupa memberi sapa pada pasir -pasir pantai 

Yang telah lama menanti 

Beranjak menjauh dari pantai

Semakin gelap hari menampakkan wajah 

Lentera jadi bagian wajah perjalanan 

Hanya ia yang mudah terlihat mengambang 

Di atas gelombang malam 

Hingga bersela lompatan -lompatan kecil 

Arak arakan perenang kecil 

Mengitari sampan menimbulkan 

Percikan -percikan di permukaan 

Lincah kibasan ekor dan liuk 

Tubuh -tubuh kecil itu 

Semakin mengisyaratkan dirinya 

Sebagai pemilik wilayah jelajahnya.




Memastikan

Sungguh tidak terpikir lagi  Mengapa harus menuju ke sana Juga tidak pada duduk perkara  Mendekat istana tunga dan sejenisnya  Tak lagi juml...